15
Jul 2023
Agar aku semakin mensyukuri panggilanku di dalam Serikat dan semakin mengakarkan lagi pada asas dan dasar Serikat didirikan; serta semakin setia dan semangat dalam perutusanku saat ini.
Dalam pertobatan kita, baik secara personal maupun institusional, kita juga diajak kembali ke akar panggilan kita sebagai Jesuit. Selain akar Latihan Rohani, kita harus pula melihat kembali Konstitusi. Pada Formula Instituti, paragraf awal Konstitusi, diajukan panggilan kita sebagai Jesuit sebagai berikut:
“Barang siapa ingin berjuang sebagai prajurit Allah di bawah panji Salib dalam Serikat kami - yang ingin kami tandai dengan nama Yesus, dan melulu melayani Tuhan dan Gereja mempelai-Nya, di bawah Sri Paus di Roma, Wakil Kristus di dunia - setelah mengikrarkan kaul meriah kemurnian, kemiskinan dan ketaatan seumur hidup, haruslah ia menyadari bahwa dirinya adalah anggota Serikat, yang didirikan terutama dengan tujuan ini, yakni membela dan merambatkan iman, serta memajukan jiwa-jiwa dalam kehidupan serta ajaran kristiani, melalui khotbah-khotbah, pelajaran dan segala bentuk pelayanan Sabda Allah yang lain, serta dengan memberikan Latihan Rohani, mengajar agama kristiani kepada anak-anak dan orang-orang sederhana, serta memberikan penghiburan rohani kepada umat beriman dengan mendengarkan pengakuan dan melayani sakramen-sakramen lainnya. Lagi pula, Serikat mau menawarkan jasanya dalam mendamaikan orang yang berselisih dan membantu serta melayani penuh cinta mereka yang berada dalam penjara atau di rumah sakit, dan melakukan karya amal kasih lainnya yang sekiranya akan menambah kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umum; semua itu akan dilakukan seluruhnya dengan cuma-cuma dan tanpa mau menerima imbalan apa pun atas jerih payahnya.
Selanjutnya, hendaknya (setiap orang) berusaha, sepanjang hidupnya, pertama-tama untuk memusatkan perhatian pada Allah dan kemudian pada hakikat institusi yang telah dipeluknya ini, yang merupakan semacam jalan menuju Tuhan; dan dengan sekuat tenaga berusaha mencapai tujuan, yang oleh Tuhan dihadapkan padanya, masing-masing menurut rahmat yang diberikan oleh Roh Kudus, dan sesuai dengan tingkat khas panggilannya sendiri.”
Pada hari kedua ini, kita ingat kembali panggilan kejesuitan kita:
Kontemplasi Penjelmaan: LR 101-109
Pendahuluan I. Mengingat-ingat cerita yang harus ku kontemplasikan. Di sini ialah Ketiga Pribadi Ilahi memandang seluruh permukaan atau keliling bumi penuh dengan manusia. Dan karena melihat semua masuk neraka, mereka memutuskan dalam kekekalan-Nya supaya Pribadi yang kedua menjadi manusia untuk menyelamatkan bangsa manusia. Maka tibalah saat pelaksanaannya. Mereka mengutus malaikat Gabriel menghadap Ratu kita. Pendahuluan II. Membayangkan tempat dalam angan-angan. Di sini melihat luasnya permukaan bumi di mana tinggal sekian banyak bangsa yang berbeda-beda. Kemudian melihat juga secara khusus rumah dan bilik Ratu kita di kota Nazaret, di daerah Galilea. Pendahuluan III. Mohon apa yang ku kehendaki. Di sini mohon pengertian yang mendalam tentang Tuhan yang telah menjadi manusia bagiku agar lebih mencintai dan mengikuti-Nya lebih dekat. Catatan. Baiklah di sini diingat bahwa doa-persiapan itu tadi harus dilakukan tanpa diubah-ubah seperti telah dikatakan pada pemulaan, apalagi hendaknya dilakukan ketiga pendahuluan yang sama selama Minggu ini dan minggu-minggu selanjutnya menurut bahan yang dibentangkan. Pokok I. Melihat pribadi-pribadi satu persatu. 1- Mereka yang berada di atas permukaan bu- mi,dalam aneka ragam pakaian dan tingkah laku mereka. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang dalam perdamaian, ada yang dalam peperangan; ada yang me- nangis, ada yang tertawa, ada yang sehat, ada yang sakit; ada yang lahir, ada yang tengah meninggal, dsb. 2- Melihat dan menimbang-nimbang Ketiga Pribadi ilahi, bersemayam di atas tahta ke- rajaan atau singgasana Keagungan ilahi; mereka memandang seluruh permukaan bumi, serta segala bangsa dalam kebutaan yang sedemikian pekat, meninggal dan turun ke neraka. 3- Melihat Ratu kita dan malaikat yang mem- beri salam kepadanya. Dan melakukan re- fleksi untuk mengambil buah dari apa yang kulihat. Pokok II. Mendengarkan apa yang dikatakan orang- orang di permukaan bumi: bagaimana mereka ber- cakap-cakap yang satu dengan yang lain; bagaimana mereka bersumpah jahat, serta menghojat Allah dsb. Demikian juga, apa yang dikatakan Pribadi- pribadi ilahi: "Marilah kita laksanakan penebusan. bangsa manusia", dsb. Lalu melakukan refleksi untuk mengambil buah dari kata-kata mereka. Pokok III. Sesudah itu memandang apa yang dilaku- kan orang di permukaan bumi: pukul-memukul, bunuh-membunuh, masuk neraka, dsb. Demikian juga, apa yang dilakukan Pribadi-Pribadi ilahi: me- ngerjakan Penjelmaan yang teramat suci, dsb. Demikian juga apa yang dilakukan malaikat dan Ratu kita: bagaimana malaikat melaksanakan tu- gas menyampaikan kabar, dan Ratu kita meren- dahkan diri serta berterima kasih kepada Keagung- an ilahi. Dan melakukan refleksi untuk mengambil buah dari masing-masing perkara ini. Percakapan. Akhirnya mengadakan suatu percakapan, sambil memikirkan apa yang harus kukatakan kepada Ketiga Pribadi ilahi, atau kepada Sabda abadi yang telah menjelma atau kepada Bunda-Nya, Ratu kita. Memohon menurut apa yang kurasa dalam hatiku, untuk dapat lebih baik mengikuti dan meneladan Tuhan kita yang baru saja menjelma. Berdoa Bapa kami satu kali.